Saturday, February 16, 2013

Berbagi ilmu di Coffee Class

Dalam beberapa quarter, di tempat saya bekerja ada kegiatan untuk sharing ilmu tentang kopi yang biasa kami sebut Coffee Master Gathering. Kegiatan ini secara internal dilakukan untuk membangun passion para barista dan menjadi ajang untuk saling sharing pengetahuan tentang kopi. Menyenangkan rasanya bisa berbagi ilmu dengan mereka, karena ini juga menjadi kesempatan saya untuk merefresh kembali apa yang sudah saya tahu tentang kopi dan mengenal orang baru (saya punya prinsip, makin sering ilmu dibagi, pengetahuan kita makin bertambah! *maklum daya ingat saya agak lemah, kalo disimpen sendiri yang ada nanti malah lupa! XP hehehe*).


Coffee Class @ Kemang Square. (hey! Rica JKT48 is a Coffee Master :D) 

Walau diadakan secara kecil-kecilan dengan banyak keterbatasan, saya mencoba mengemasnya dalam cara yang fun. Mulai dari mencicipi kopi dan food pairing baru, bermain games, sampai mencoba alat brewing baru. Walaupun pesertanya berasal dari berbagai store yang berbeda, kami masih sempat untuk meluangkan waktu 2-3 jam untuk berkumpul dan berbagi ilmu disini. 
Terlihat dari animo barista, menjadi coffee master adalah sebuah impian. Dapat black apron, tersertifikasi, dapat banyak kesempatan mengenal dunia kopi lebih dalam, dan pride yang mereka dapatkan. Dan saya makin bersemangat untuk berbagi dengan mereka. Dari yang awalnya hanya tahu kopi itu pahit, kini mereka bisa lebih membangun sense yang dimiliki bahwa kopi itu seperti aroma therapy. Ada yang wangi floral, fruity, earthy, dan sebagainya. 

Semoga saja acara seperti ini bisa rutin terus berlanjut.

Salad berkafein itu bernama Barista's Salad with Chicken


Beberapa waktu lalu saat mengunjungi Singapura, saya menyempatkan diri untuk melipir ke salah satu gerai Starbucks yang berada di kawasan Bugis. Seperti biasa, kawasan ini selalu ramai oleh masyarakat setempat maupun turis, apalagi disaat yang sama berdekatan dengan hari raya Imlek, lokasi ini penuh dengan berbagai dagangan imlek. Tidak peduli dalam kondisi panas maupun hujan, para pengunjung tetap asyik berbelanja.

Sembari menunggu hujan reda, saya memesan Irish Cream Frappuccino, salah satu jenis ice blended dengan flavor syrup yang tidak ada di Indonesia (kapan lagi saya bisa mencobanya? :P) dan mata saya tertuju pada salah satu menu yang terpampang di pastry casenya : Barista Salad. Sang barista kemudian menjelaskan bahwa salad tersebut mengandung balsamic dressing yang dicampur dengan coffee! Hmm... sound interesting. Bikin penasaran. Akhirnya saya pun membeli 1 seharga 5 SGD (sekitar 40.000 rupiah).

Isi salad ini seperti salad pada umumnya, terdapat potongan kentang, dada ayam, brokoli, buncis, asparagus, red reddish, tomat cherry, dan baby romaine. Yang unik adalah dressingnya yang berwarna cokelat gelap, perpaduan balsamic dressing dengan coffee (mungkin ini pertama kalinya saya makan sayur dengan kandungan kafein :p)

Overall taste coffeenya cukup stand out untuk mengimbangi rasa genk sayur mentah ini. Pahit banget sih ngga, malah nge-blend dengan si balsamic sauce. Nice! (dan saya suka nge-gadoin baby tomato dengan dressingnya. asem manis gimana gitu XD).

irish Cream Frappuccino-nya sendiri sukses masuk dalam daftar ice blended favorit saya. Saran saya sih, better kurangin 1 pump syrupnya kalo gak mau terlalu kemanisan. Sayangnya saya lupa minta pake soy milk, karena IMHO ice blended coffee-nya Starbucks kalo pake soy-milk lebih enak.

Oya, disini saya kenalan dengan salah satu barista black apron yang ramah. Namanya Nur. Dia cerita gimana aktivitas coffee master di Singapura dan menyarankan saya untuk bertemu dengan Coffee Ambassador Singapura yang saat ini sudah menjadi store manager di Starbucks Marina Bay. Sayangnya di hari yang sama saya sudah harus pulang ke Jakarta.

Maybe next time! :)

Friday, January 25, 2013

Menjadi Barista...


Tidak semua pembuat kopi bisa disebut Barista.


Secara teori, barista adalah mereka yang bekerja dibalik espresso machine. peracik kopi. dan bekerja di sebuah sudut bernama 'bar'. Setipe dengan bartender, hanya saja minuman yang disajikan adalah minuman kopi berbahan dasar espresso.

Namun kalo boleh saya membuat definisi sendiri, saya punya definisi lain mengenai Barista.

Barista adalah mereka yang mendedikasikan hidupnya untuk secangkir kopi terbaik,
pemberi service yang membuat customernya selalu ingin datang kembali,
dan mereka yang tidak pernah malu...... menjadi seorang barista.

Karena esensinya menjadi barista adalah meracik dengan hati.

Berbeda tangan berbeda rasa.

Dan tiap cangkir kopi, rasanya tidak sama bukan? :)

Thursday, November 29, 2012

Barista = Pencitra Kopi. 

Dengan kopi yang sama, alat yang sama, rasa bisa berbeda jika dicrafting lewat tangan yang berbeda. Tergantung bagaimana kopi tersebut mau dicitrakan. 

Tuesday, November 27, 2012

Balada Kopi Instant

Kopi sachet. Kopi instant. Tinggal seduh langsung jadi. You name it. Saya pribadi sebenarnya bukan penggemar kopi instant. Namun saya juga tidak anti dengan kopi semacam ini. Karena saat masih menjadi mahasiswa, kopi sachetan seakan menjadi 'super hero' di saat saya butuh ngopi namun isi dompet sedang tipis-tipisnya. Murah meriah. Teman begadang yang setia :)

Ketika pertama kali saya belajar tentang kopi secara serius, saya sempat melakukan semacam eksperimen kecil. Sekedar buat 'seru-seruan' aja kok: coffee tasting kopi sachetan. Eksperimen iseng ini didorong rasa penasaran saya akan karakter kopi sachetan yang ada di pasaran.  Kopi seperti apa sih yang disukai masyarakat luas?

Hal yang saya lakukan ini sempat dianggap konyol dan membuat geli beberapa teman-teman saya yang juga menggandrungi kopi. "Dih ngapain kopi sachetan di tasting? kan gak pure kopi".  Bagi yang sudah terbuai dengan kenikmatan biji kopi asli, menikmati kopi sachetan mungkin rasanya agak gengsi. Tapi saya akui:
Saya pribadi pertama kali minum kopi justru dari kopi sachetan.
Melalui eksperimen kecil ini, saya tahu berbagai macam rasa yang dihadirkan lewat kopi sachetan, dan karakter orang yang meminum kopi ini. Mereka yang ingin serba praktis, ringkas, simple, gak neko-neko, sederhana, kurang lebih seperti itulah.

Walau sekarang saya sudah jarang banget minum kopi instant, saya berterima kasih berkat kopi instant akhirnya saya bisa ketrigger buat mengenal kopi lebih jauh. Anggap saja kopi instan ataupun kopi sachetan ini sebagai P3K : Pertolongan Pertama Pada saat butuh Kopi.

(Mana tau kan.....tiba-tiba terdampar di pulau atah berantah gitu, atau terjebak dalam situasi darurat yang boro-boro kepikiran bawa grinder dan mesin kopi. Yang bisa memenuhi kebutuhan darurat ngopi kita cuma kopi instan? :P)

Friday, April 29, 2011

Menikmati Ibrik & Moka Pot @ Coffee War

Di salah satu bilangan Kemang Timur, ada sebuah coffee shop yang membuat saya dan Bona tertarik untuk mengunjunginya. Namanya coffee war. Based on rekomendasi beberapa teman, coffee shop ini cukup menarik karena mereka menyajikan kopi tanpa mesin espresso. Alat brewing yang disediakan ada french press, moka pot, ibrik. Ibrik? Wow, sudah lama saya penasaran ingin mencicipi kopi yang dibrew dengan alat ini! *penggemar berat kopi hitam pekat :D*


Memasuki ruangan sederhana berbentuk persegi yang sederhana namun berkesan homey ini, kami disambut hangat oleh salah seorang barista yang bernama mbak Sri. Dengan ramah, mbak Sri mempersilakan kami berdua untuk melihat langsung bagaimana proses brewing coffee menggunakan ibrik. Kopi pertama adalah pilihan Bona yaitu Sulawesi Toraja dengan brewing menggunakan ibrik, sedangkan kopi kedua adalah pilihan saya yaitu kopi Sumatera Mandheling menggunakan Bialetti Moka Pot.



Menggunakan ibrik sangatlah mudah. Kopi digiling dengan setingan halus (turkish), kemudian bubuk kopi dimasukkan ke dalam ibrik dan dituangkan air. Masak kopi diatas kompor sampai mendidih.



Yang kedua adalah Moka Pot. Pertama-tama, air dipanaskan terlebih dahulu hingga menyentuh titik temperatur yang diingirkan. Setelah itu, masukkan ground coffee kedalamnya. Ada berbagai macam cara untuk menikmati kopi dengan Moka Pot. Bagi penggemar kopi susu, kita bisa juga tambahkan susu kental manis di dalamnya. Aroma harum nan menggiurkan langsung menyeruak manakala mbak Sri menyeduh kopi kami dengan menggunakan Moka Pot. Ini merupakan salah satu keunggulan alat ini, aroma yang sangat harum sangat terasa saat kopi baru dibrew.


Menikmati kopi rasanya kurang lengkap tanpa cemilan pelengkap. Dan pilihan makanan sore itu adalah pisang londo! :)

Friday, January 14, 2011

Ready to Drink Caffe Latte @ Hongkong


Ketika saya berkesempatan untuk mengunjungi Hongkong beberapa waktu lalu, saya memanfaatkan kesempatan ini untuk 'berburu' kopi khas negara setempat. Sayangnya setiba disana, cukup sulit bagi saya untuk menemukan kopi khas China, karena memang negara ini lebih dominan memproduksi teh ketimbang kopi. Namun saya tidak patah semangat. Tidak dapat biji kopi, saya pun akhirnya memilih untuk mencoba kopi dalam 'format' lain, kopi Ready to Drink alias kopi dalam kemasan. Di negara seperti Hongkong, Korea, dan Jepang dengan gaya hidup yang serba praktis dan kegiatan masyarakatnya yang super sibuk, kopi-kopi semacam ini sangat banyak dan mudah ditemukan di mana-mana. Di stasiun, di convenience terdekat macam 7eleven, hingga vending machine. Sangat praktis dan bisa langsung dikonsumsi saat butuh kopi di pagi hari.

Dari sekian banyak, kopi, saya akhirnya memilih Caffe Latte dengan kemasan kotak seperti ini untuk dipairing dengan Sandwich Tuna yang menjadi sarapan saya pagi itu. Biasanya yang dikemasankan dalam kotak seperti ini cuma susu kan? Tapi kali ini kopi? Hmm boleh..boleh...lucu juga.

Walaupun termasuk kopi murah, soal rasa, kualitasnya tetap terjaga. Kopi susu dengan tekstur yang creamy dan kopinya cukup mendominasi dibandingkan si susu. Nice! Dan sangat pas disajikan dingin karena memberikan sensasi yang menyegarkan. Jika anda berkunjung ke Hongkong, jangan lupa untuk mencicipi kopi ini. Cuma 9 HKD aja kok :) (sekitar 10.000 rupiah).

Monday, January 10, 2011

Coffee Tasting #3 : Kopi Robusta Thailand


Beberapa minggu lalu, saya dapat oleh-oleh dari salah satu teman, Tyas , yang baru saja pulang dari Thailand. Oleh-olehnya menyenangkan juga: 1 sachet kopi khas dari negara tersebut. Packagingnya polos dan tidak ada tulisan apa-apa. Namun Tyas menjelaskan bahwa di dalam sachet tersebut sudah berisi kopi beserta kertas filternya. Tinggal dijepitkan di mug, lalu tuang air panas seperti layaknya pour over method dan voilaa, kopi bisa langsung dinikmati. Dengar-dengar, gaya ngebrew seperti ini memang populer di Thailand dan beberapa negara sekitarnya. Selain memang praktis, mudah dan ekonomis (kita tidak perlu membeli cone untuk menyanggah si filter), flavor yang didapat dari si kopi juga bisa keluar maksimal. Tyas tidak tahu lebih detail keterangan mengenai si kopi ini karena kertas di kertas pembungkusnya, nama kopi hingga instruksi penggunaan full berbahasa Thai.

Akhirnya, saya memutuskan untuk mencoba membrew kopi ini bersama-sama dengan District Coffee Master (DCM) lainnya, sekalian coffee tasting. Awalnya kami agak kebingungan mengenai takaran air, peletakan filter, maupun wadah yang akan digunakan. Berbekal patokan ideal Starbucks untuk setiap 10 gr kopi dengan 180 ml air, maka kami mencoba membrewnya dengan sekitar 250 ml air karena berat si kopi sendiri sekitar 14-15 gr.


Maklum baru belajar, pengalaman pertama pasti masih ada salah. Di brew pertama, kami tidak merobek filternya, alhasil air yang dituang hanya membasahi sebagian besar sisi luar filter dan menyentuh sedikit kopinya. Dan air yang kami tuang agak kebanyakan, mengakibatkan hasil brew menjadi watery, malah penampilannya lebih mirip teh daripada kopi. namun flavornya masih bisa kami rasakan. Saat pertama kali dihirup, ow..ow...sangat terasa sekali bahwa kopi ini adalah kopi robusta. Dengan jagung manis yang dibakar sangat khas ala kopi-kopi robusta, dan aroma jamu yang cukup kencang di hidung.

Setelah menyadari bahwa bagian atas filter bisa disobek, akhirnya kami membrew ulang kopi ini. Dengan takaran air yang juga dikurangi agak kopi terasa lebih pekat. barulah setelah brew kedua selesai, kami akhirnya bisa benar-benar merasakan aroma, acidity, body, dan flavor kopi ini. Dari aroma, kami langsung bisa menebak bahwa ini adalah kopi robusta, karena ada bau-bau seperti jagung manis yang dibakar. Kebanyakan kopi robusta memang digabung dengan jagung, agar flavor yang dihasilkan bisa lebih sweet. Aciditynya terbilang soft, dengan body yang medium to full bodied.

Bagi kami yang lebih terbiasa mencicipi arabica, kopi robusta dirasa memiliki aroma dan flavor yang terlalu menyengat. Banyak orang yang menyebutkan kopi robusta adalah 'kopi favorit para orang tua', karena yang menjadi favorit dari kopi ini adalah aromanya yang strong, dengan kafein 2 lipat lebih banyak dibanding arabika. Tapi, rasanya kurang tepat juga jika kita membandingkan mana yang lebih baik antara arabika dan robusta. Karena memilih kopi antara arabika ataupun robusta, itu semua balik lagi ke soal selera.

Coffee Tasting #2 : Starbucks Reserve - Brazil Sul De Minas Peaberry

Dari sekian banyak whole bean yang pernah dirilis oleh Starbucks, ada beberapa kopi yang memang dikeluarkan secara limited edition alias terbatas. Dulu, ada yang namanya seri Black Apron Exclusive namun hanya dirilis sebanyak 13 seri (terakhir Sumatra Siborong-Borong). Kini, Starbucks kembali memanjakan lidah para penggemar fanatik kopi dengan menghadirkan seri baru bernama Starbucks Reserve, dimana kopi-kopi yang masuk dalam kategori ini bisa dibilang merupakan best of the best dari kopi Arabika premium yang pernah dikeluarkan oleh Starbucks.

Sekilas tentang Starbucks Reserve
Untuk membuat special edition seperti ini, Starbucks melakukan riset yang mendalam selama bertahun-tahun dengan mengirimkan coffee buyer terbaik mereka ke berbagai tempat di seluruh dunia, untuk mencari kopi yang memberikan pengalaman berbeda. Mencari kopi yang rasanya jarang atau malah belum pernah ditemui di kebanyakan kopi, sesuai slogannya: Exotic, Rare, Exquisite.

Saking spesialnya kopi ini, jumlah yang diproduksi pun tidak banyak, dan dijual secara eksklusif. Asyiknya, harga yang ditawarkan masih terbilang terjangkau. Cukup dengan 12 USD saja, kita bisa menikmati kopi ini. Sayangnya, tidak semua Starbucks menjual Starbucks Reserve (kopi ini juga tidak masuk ke Starbucks Indonesia), karena keterbatasan kuantitas itu tadi dan juga proses distribusi yang bisa memakan waktu lama yang bisa memperpendek shelf life dari si kopi itu sendiri.

Coffee tasting
First of all, thanks to Bryan, yang baru saja dapat oleh-oleh dari tantenya, sebungkus kopi Brazil Sul De Minas Peaberry, salah satu kopi dari seri Starbucks Reserve ini. Bersama 4 rekan District Coffee Master lainnya, saya mencoba kopi ini dengan rasa super penasaran.


Dengan menggunakan alat brewing berupa coffee press yang memang ideal untuk segala macam kopi, kami menunggu 4 menit untuk mencicipi 'kopi langka' ini. Bryan selaku pembawa materi, mengconduct coffee tasting kami pada sore itu. Saat mencium aroma si kopi, aroma chocolate langsung terasa, sangat khas ala kopi-kopi Brazil yang umumnya dominan beraroma cokelat. Bukan Dark Chocolate. Tapi pure plain chocolate cenderung ke milk chocolate kalau menurut saya.

Di tahap kedua, slurp, kami kemudian menenggak sang 'black wine'. Hmmm, dari segi body kopi ini terbilang medium bodied dan karena kualitasnya yang sangat baik memberi kesan yang sangat elegant, dengan mellow acidity dan well rounded flavor. Sensasi sparkling langsung menyeruak di aftertastenya. Saya seperti merasakan letupan-letupan kecil seperti habis minum soda dari ujung, sisi samping kiri dan kanan, hingga belakang lidah. Apalagi ketika udara menyentuh permukaan lidah saya, sparklingnya semakin berasa. Saya sedikit wondering apakah sensasi sparkling ini berasal dari tanaman Mint Eucalyptus yang flavornya memang terserap dalam kopi ini atau ada pengaruh lain seperti yang dikatakan Bryan: kondisi tanah, cuaca, dikombinasikan dengan processing method kopinya sendiri dan roastingnya. Yang pasti semua memiliki faktor penting dan ikut 'menyumbangkan' peran sehingga bisa menghasilkan kopi berkualitas dan seunik ini.

Kopi dengan varietas Mondo Novo dan Catuai ini tumbuh di dataran tinggi Brazil dengan ketinggian 800 hingga 1200 kaki diatas permukaan laut, region Sul de Minas, daerah pegunungan Serra de Mantiqueira dengan kualitas tanah yang sangat baik dan kondisi iklim yang prima. Saat musim panas, memberikan rasa hangat, saat hujan hingga musim dingin memberikan udara yang kering. Kondisi cuaca ini membantu proses alamiah kopi untuk meningkatkan flavornya menjadi sangat unik dan diburu oleh penggemar kopi dari seluruh dunia. Peaberry sendiri merupakan kopi berbiji tunggal (orang biasanya menyebut 'Kopi Lanang'), berbentuk bulat, dan sangat jarang ditemukan. Potensi Peaberry ditemukan hanya 5-10%. Bagi penggila kopi, Peaberry termasuk salah satu kopi yang paling dicari. Jadi, ngga heran buat Brazilnya sendiri, Sul de Minas Peaberry ini ibaratnya sudah seperti emas murni yang luar biasa nilainya.

Boleh juga nih buat alternatif bikin 'mata melek' kita bisa nyoba kopi yang nggak harus berflavor kencang dan menyengat, full bodied, atau pun berkafein tinggi, tapi bisa dengan kopi yang punya sensasi menyegarkan!

Lewat Brazil Sul De Minas Peaberry kami merasakan pengalaman baru dalam meminum kopi. 'Kejutan kecil'nya lah membuat kami penasaran untuk mencicipi seri lainnya.

Rating: 8/10

Saturday, November 6, 2010

nutmeg


butuh materi 'peringan' kopi tapi bosan menggunakan susu?
just a pinch of nutmeg, it completes the taste nicely.

Saturday, September 11, 2010

Coffee is a Crime?

Jika kebetulan anda hidup di Turki abad ke-17 dan anda kedapatan sedang minum kopi, maka anda bisa dihukum mati.

Kopi Joss

Kopi Joss

kopi tubruk panas yang diberi arang membara. Diberi nama kopi Joss karena begitu dimasukan arang maka kopi akan mengeluarkan suara "josss!" yang kencang.

Minuman ini dijual di angkringan-angkringan sudut kota Jogja, dan yang paling terkenal di Angkringan Tugu.

Untuk membuat kopi Joss, arang dipanaskan pada suhu diatas 250° celcius hingga menjadi karbon aktif yang berguna mengikat polutan dan racun. Terlepas dari pro-kontra dan efek karsinogen yang terkandung di dalamnya, konon karbon teraktivasi ini berguna untuk mengurangi ampas kopi, memperbaiki aroma, dan mengikat racun.

Kopi Njethak

Di Kudus n Jepara ada kopi unik bernama njethak (baca: jetak).
Konon kopi ini direndam anggur dahulu sebelum dijemur dan digiling.
Ciri khas kopi jetak terkenal dengan rasa yang manis dan kental.

Irish Cream Cappuccino @ Pizza e Birra

Image and video hosting by TinyPic

Mungkin terdengar aneh untuk seseorang yang baru pertama kali datang ke Pizza e Birra bukan untuk mencicipi pizza apalagi birnya. Yup, entah kenapa saya lebih kedistract dengan deretan menu kopi yang ada disana, salah satunya Irish Cream Cappuccino. Sebelum memesan, saya bertanya dulu kepada salah satu waiter disana apakah Irish Cream disini pure menggunakan liquor atau tidak (biasanya Irish cream adalah perpaduan dari irish Whiskey dan cream). Dan ternyata Irish Creamnya sudah disajikan dalam format syrup berflavour Irish Cream. Ow, owkay...it's fine to try...

Dan akhirnya, datanglah si Irish Cream dengan penampilan sebagai berikut:

Image and video hosting by TinyPic

Irish Cream Cappuccino di Pizza e Birra menggunakan illy coffee sebagai espressonya. Brand ini menggunakan biji kopi arabika premium asal Brazil, negara yang disebut-sebut sebagai salah satu pengekspor biji kopi arabika nomor satu di dunia. Kopi region Latin Amerika (menurut apa yang saya tahu) umumnya cenderung medium bodied, dan cocok dipadukan dengan segala yang mengandung cokelat. Dan aha!...saya melihat ada saus mocha di kopi ini. Baiklah, sepertinya akan menjadi perpaduan yang menyenangkan. mari kita cicipi :)

Karena namanya juga Cappuccino, saat pertama kali diseruput yang paling berasa adalah foamnya. Tekstur foamnya lembut dan creamy tapi masih ada sedikit bubble. dilengkapi dengan taburan cocoa powder dan saus mocha. Dari aromanya, saya merasakan aroma yang manis, lebih manis dari vanila dan karamel. Ya...ini dia irish Creamnya. Untuk kopinya sendiri tidak terlalu kental dan tidak terlalu encer, medium bodied, dan less bitter.

after taste: sangat manis. illy coffee sebenarnya memiliki rasa yang cukup enak dan menyenangkan, sayangnya sirup Irish Cream terlalu mendominasi dalam kopi ini. Ditambah ternyata di dalamnya ada saus mocha, membuat Cappuccino ini menjadi terlalu manis dan si kopi yang basicnya memang tidak strong dan medium bodied menjadi tidak terlalu dominan. Sayang sekali. Padahal, mungkin kalau sirup Irishnya dikurangi sedikit, jatuhnya bisa lebih pas.

food pairing
: original french fries chili con carne. Saya cukup beruntung memilih makanan asin sebagai pasangan kopi ini, karena lebih menyeimbangi lidah saya. Masih banyak varian makanan asin di Pizza e Birra seperti pasta-pastanya atau malah pesan pizzanya aja sekalian :D. Tidak disarankan memesan makanan yang juga manis karena jatuhnya malah makin mahteh, kecuali kamu memang sedang sugar high.

another option: Mudslide. Kalo gak suka kopi dengan foam, silakan coba Mudslide. Illy coffee dengan sirup irish cream dan milk. Mungkin kurang lebihnya bisa disebut Irish Cream Latte.

recommended for: penggemar kopi manis, fancy coffee, creamy coffee
not recommended for: penggemar black coffee, full bodied coffee

rating: 3/5 bintang

Friday, September 3, 2010

Grandpa Luigi's Iced Coffee @ Kitchenette

Setelah sekian lama tidak melakukan caffeine journey, akhirnya saya berkesempatan untuk memulai kembali petualangan saya ini. Ditemani Jenn, kami meluncur ke salah satu tempat yang tengah happening di Jakarta: Kitchenette. Sesuai namanya, resto dengan dekorasi ala interior dapur ini menyajikan masakan ala Perancis dengan nama-nama menu yang unik, yaitu mengambil nama Laki-laki dan Perempuan khas Perancis.

Image and video hosting by TinyPic

Kopi bukan menu unggulan di resto ini, variannya tidak begitu banyak dan lebih didominasi oleh kopi-kopi standard seperti latte, mocha, atau cappuccino. Ketika saya bertanya pada salah satu pramusajinya, mereka merekomendasikan 2 menu Iced Coffee: Madame Colette's Frozen Affogato dan Grandpa's Luigi Iced Coffee. Dan ketika saya bertanya mana yang lebih favorit, diantara keduanya, sang pramusaji merekomendasikan saya Grandpa's Luigi. Baiklah, saya pilih Grandpa's Luigi.

Appearance
: Disajikan di gelas kaca untuk ice, dengan topping ice cream vanilla di atasnya. Biar lebih menarik, ditambahkan 1 batang kayu manis. Nampaknya kopi ini dibuat dengan cara dishaken, karena terdapat foam yang cukup tebal diatasnya.

Image and video hosting by TinyPic

Acidity, Flavor:
Sama seperti kebanyakan Iced Coffee, kopi yang digunakan unuk Granda's Luigi ini mengandung acidity yang terbilang medium cenderung high. Saya kurang tahu persis kopi dari region mana yang digunakan, tapi kalau boleh nebak, antara region Africa atau America Latin. Rasanya juga cukup menyegarkan, ada sensasi manis dan lemony.
After taste
: Watery. Sangat disayangkan, komposisi es batu di kopi ini lebih mendominasi dibanding kopinya sendiri. 3/4 gelas! alhasil, ketika 'ditinggal' beberapa menit, saat saya minum kembali lebih berasa air dengan rasa kopi yang samar. pada akhirnya saya hanya bisa menikmati es krim vanilla yang menjadi topping di atasnya.

food pairing: Marie Lou, crepes dengan potongan pisang yang dipanggang, dengan topping es krim vanilla, saus cokelat, taburan powder kayu manis. Manisnya pas, dan porsinya termasuk besar. crepes yang disajikan bukanlah tipe crepes garing. Teksturnya lunak dan sangat enak dinikmati selagi panas. Namun daripada dipairing dengan kopi, saya lebih merekomendasikan makanan ini disandingkan dengan mango-orange elixir (non coffee beverage), karena terasa lebih menyegarkan. tapi balik lagi semua tergantung selera.

Image and video hosting by TinyPic


Coffee Tasting #1 : Basic Term

coffee tasting : let's explore the bean

grow in different regions, every coffee has a different characteristic. because when it grows, the coffee plant absorbs any kind of minerals, flavor, aroma which came from around. this thing makes every coffee is special and has a unique characteristic. start your coffee journey from doing a simple coffee tasting to know more about coffee that you have.
(FYI, don't add milk, sugar, etc. just try a plain black coffee using french press).

Image and video hosting by TinyPic

smell it first
wake up and smell the coffee. have you heard that statement? we will get our first impression of coffee from smelling. relax, take a deep breath, it's time for 'aroma-therapy'.
make sure your nose could catch every aroma inside. use your sense. floral? earthy?

next, slurp!
next step, let's slurp the coffee while it still warm. don't gulp it directly. make sure when you sip, the 'black wine' covering palate and your tongue.

discovering...

feel it.

is it bitter? sweet? full bodied? more or less acidity? ow...maybe you feel a berry notes?
alright...you've got another three tasting terms after slurp it : acidity, body, and flavor.

Acidity is a desirable characteristic in coffee. It is the sensation of dryness that the coffee produces under the edges of your tongue and on the back of your palate. The role acidity plays in coffee is not unlike its role as related to the flavor of wine. It provides a sharp, bright, vibrant quality. With out sufficient acidity, the coffee will tend to taste flat. Acidity should not be confused with sour, which is an unpleasant, negative flavor characteristic.

Body is the feeling that the coffee has in your mouth. It is the viscosity, heaviness, thickness, or richness that is perceived on the tongue. A good example of body would be that of the feeling of whole milk in your mouth, as compared to water. Your perception of the body of a coffee is related to the oils and solids extracted during brewing. Typically, Indonesian coffees will possess greater body than South and Central American coffees. If you are unsure of the level of body when comparing several coffees, try adding an equal amount of milk to each. Coffees with a heavier body will maintain more of their flavor when diluted.

Flavor is the overall perception of the coffee in your mouth. Acidity, aroma, and body are all components of flavor. It is the balance and homogenization of these senses that create your overall perception of flavor.


describe it!
tell and share anything you know about the coffee. every coffee has its own story. like a fairy tale.
evolusi nama kopi

Qahwa
Qahweh Kahfeh Caffe Coffee → Kopi
mengapa steam susu tidak boleh bubble?

karena jika bubble, saat dituang kopi menjadi tidak tercampur sempurna dengan susunya. Hal ini menyebabkan kopi 'masuk angin' (melempem) dan rasa kopi yang keluar menjadi tidak maksimal.

(karena itu, mari berlatih steam susu lebih giat lagi)

Have you tried this?

Algato - Single shot Espresso with Vanilla Ice cream


(trust me, this is really good~!)
Do you know, ladies?

Drinking just three cups of coffee a day could shrink some women's breasts